Bulan puasa merupakan bulan yang di tunggu-tunggu kedatangannya oleh umat islam, Karena banyak fadhilah-fadhilah yang terkandung didalamnya. Dalam menyambut bulan yang mulia ini, banyak tradisi-tradisi rakyat yang di gelar, salah satunya adalah nyadran. Apakah nyadran itu ? dan bagaimana islam memandang tradisi ini ?Nyadran merupakan tradisi upacara adat jawa yang dilaksanakan ketika menyambut bulan puasa. Upacara adat nyadran tersebut dilakukan sebagai ungkapan syukur atas berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa serta untuk mengirim doa bagi arwah para leluhur, khususnya cikal bakal atau pendiri kampung. Tradisi ini juga diisi dengan kenduri warga masyarakat sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan rezeki dan keselamatan dalam bekerja.
Selain itu ada juga beberapa wilayah di Yogyakarta yang menyelenggarakan berbagai atraksi kesenian dan budaya untuk memeriahkan upacara ritual adat nyadran ini. Atraksi ini sering mengundang perhatian. Sehingga tak sedikit turis asing yang antusias melihat tradisi nyadran ini.
Dalam islam istilah nydran ini lebih dikenal dengan ziarah kubur atau dalam masyarakat dikenal dengan istilah nyekar. islam memandang hal ini, bukan merupakan sesuatu hal yang dilarang, karena tradisi ini megingatkan manusia kepada kematian. Disebutkan dalam hadis
كنت نهيتكم عن زيارة الكبر فزورها
Artinya : saya (rasul) melarang kalian untuk berziarah kubur, maka berziarahlah.
Hadis diatas menerangkan bahwa ziarah kubur itu tidak dilarang, dengan perintah فزورها , yang dimana pada awal kalimat rasul melarang nya. dalam kaidah fiqhiyah berbunyI
الأمر بعد نهي إباحة
Artinya : sebuah perintah setelah larangan menunjukan kebolehan.
Jadi hadis diatas tidak melarang ziarah kubur.
Pada tradisi masyarakat Yogyakarta yang disebutkan diatas sebenarnya sama seperti tradisi ziarah kubur pada yang dilakukan masyarakat di daerah lain, akan tetapi ditambah dengan yasinan, tahlilan, atraksi atraksi budaya dan kesenian masyarakat setempat untuk memeriahkan perayaan tersebut. Dan itu merupakan ungkapan rasa syukur mereka atas nikmat yang allah berikan kepada mereka.
Namun bagaimana dengan kebiasaan masyarakat yang menziarahi makam makam wali ???
Dari banyak peristiwa yang terjadi di masyarakat,banyak masyarakat yang mendatangi makam-makam wali hanya untuk meminta keberkahan, atau tidak jarang yang meminta kekayaan, atau meminta sesuatu kepada makam yang merka ziarahi. Dan tak sedikit dari mereka yang datang dari daerah jauh hanya untuk mengharapkan sesuatu hal yang dapat menimbulkan kemusyrikan. Karena meraka sudah meminta kepada selain Allah dan terlalu mengkultuskan wali dengan berlebihan. Adapun menziarahi kubur tanpa melakukan safar, maka hal ini disyari’atkan dalam agama kita apabila dilakukan dalam rangka mendo’akan mayit, mengingat kematian dan kehidupan akhirat.